Sambrawai Yang Sederhana

Negeri Seberang Gunung ;
(Saat Aroma Sinyal dan Listrik tak Tercium di Pedalaman Suku Wanijan)

Setahun tinggal di rumah rakyat kecil di pelosok negeri. Di Pulau mungil, tengah hamparan lautan. Di puncak pegunungan, di bawah bentangan lembah dan tepian pantai yang membujur sepanjang katulistiwa. Pengajar Muda mempunyai rumah baru dan saudara baru, mereka merajut erat tenun kebangsaan kita. ( Anies Baswedan )Langit Serui* siang itu memamerkan cahaya bersepuh kebiruan dengan indahnya. Angin bertiup sepoi-sepoi. Duduk di para-para* sembari menikmati secangkir es teh manis atau sekedar mengunyah sirih pinang sungguh nikmatnya. Tapi, tidak dengan saya. Apa yang diungkapkan Pak Anies Baswedan di atas sepertinya akan saya lalui di tanah ini, Tanah Papua.

Taksi sudah menunggu saya sedari tadi, tepat di depan rumah Ibu Tanawani. Induk semang saya selama di Serui. Sementara saya sibuk mengepak barang-barang yang akan saya bawa menuju desa penempatan. Taksi inilah satu-satunya kendaraan umum yang bisa menjangkau kampung-kampung kecil di Pedalaman Yapen Utara. Taksi di sini sebutan lain untuk mobil pick up baik dengan bak terbuka maupun tertutup. Mobil yang juga beken dengan nama L300 dengan bak tertutup berwarna orange itulah yang akan mengantarkan saya menuju kampung di tepian pantai itu.

Jalanan terbilang mulus. Tapi, bukan Papua namanya jika tidak ada tantangan. Namun, justru tantangan itulah yang membuat saya begitu menghargai sebuah kenyamanan hidup. Memaknai setiap tetes keringat. Serta menyadari betapa berharganya segala kemudahan hidup di perkotaan. Walaupun jalanan mulus namun medan yang harus dilalui merupakan daerah pegunungan yang penuh dengan tanjakan dan kelokan. Semantara itu, jurang-jurang dengan berragam kedalaman menghiasi sepanjang perjalanan. Sepasang mata bertaut yang terlihat hanya bentangan lembah yang menghijau.

Penumpang penuh sesak karena jumlah angkutan tak sebanding dengan jumlah pemakai moda transportasi ini. Akibatnya biaya transportasi di sini pun membengkak. Ongkos yang harus dikeluarkan untuk 2-3 jam perjalanan Rp. 100ribu sekali jalan. Jadilah, Rp. 200ribu untuk ongkos pulang pergi. Penumpang anak-anak dan perempuan biasanya didahulukan naik di bagian dalam. Sementara, saya dapat jatah naik di atap mobil. Tangan saya berpegangan pada besi tua yang melintang di atas kap mobil itu.

Jalan Trans Yapen yang membelah tiga gunung di bagian utara pulau itulah yang harus dilalui. Saya hanya bisa menelan ludah melihat gunung setinggi itu harus saya lewati. “Kaleb, taksi ini akan melaju, mendaki gunung itu kah?,” tanya saya pada penumpang yang duduk disamping saya. “Iya, betul. Kau lihat jalan beraspal yang membelah gunung itu?,” tanyanya pada saya. “Hemmmmsss,” saya hanya menghela nafas panjang. Taksi melaju kencang, angin seperti menampar-nampar pipi saya. Tangan saya semakin erat memegang besi tua itu. Saya berusaha menikmati petualangan seru khas Papua ini.

Selepas melewati tanjakan yang bertubi-tubi, memasuki jalan tanah perkampungan, taksi yang saya tumpangi masih harus melewati lima sungai yang membelah jalan desa. Sungai Weken, Perumar, Warmana, Mokrowen dan Yoram. Sungai Warmana adalah satu-satunya sungai yang dilengkapi dengan jembatan. Sementara untuk tiba di areal perkampungan taksi harus menyebrangi empat sungai berbatu lainnya. Saat hujan tiba taksi harus menunggu berjam-jam untuk menyebrang hingga sungai surut. Saya pernah mendengar satu mobil yang hanyut lantaran menerobos sungai yang deras.

Selepas melewati perjalanan panjang itu akhirnya saya tiba di Kampung Sambrawai. Sebuah kampung di tepian pantai yang indah permai. Hari-hari di Sambrawai adalah hari tanpa sinyal dan listrik. Hidup tanpa sinyal terkadang memang menenangkan. Seandainya sinyal itu seperti air galon yang bisa diisi ulang maka saya akan membawanya banyak-banyaknya saat sedang di kota. Lalu menggunakannya untuk sekedar mengetahui kabar keluarga, kerabat dan teman sejawat di sana.

Malam di Sambrawai gelap tiada terkira. Listrik belum masuk ke kampung ini. Televisi jarang ada di kampung ini. Bahkan, nyaris tak ada yang menghidupkan televisi kala malam menjelang. Penduduk di sini rata-rata menggunakan lampu teplok minyak tanah. Sebagian lagi menggunakan genset untuk penerangan. Saya bersyukur ada genset milik kepala desa yang berbaik hati menerangi tempat saya tinggal. Senter selalu tersedia di kamar saya. Sewaktu-waktu ke dapur maupun kamar kecil maka senter itu selalu saya gunakan.

Akhirnya, saya menikmati hari-hari di Sambrawai. Kampung yang mengajarkan banyak hal tentang makna kehidupan, yang tak bisa lagi saya tuangkan lewat sebuah tulisan.

Sambrawai, 23 Juni 2016 / 18 Ramadhan 1437 H

Notes :
Serui : Ibukota Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua
Para-para : tempat berteduh semacam bale-bale

 
Simple, Free Image and File Hosting at MediaFire  Simple, Free Image and File Hosting at MediaFire   Simple, Free Image and File Hosting at MediaFire
 
sumber: www.facebook.com/trisujarwo.songha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *