Benang Merah

Pak Guru, Benang Merah Su Muncul“Pak Guru, mari kitong minum air kelapa,” ajak Herman dengan bersemangat saat matahari sedang panas-panasnya.
“Tara bisa, Pak Guru masih puasa. Nanti saja,” jawabku santai.
“Tarabisa sekarang kah?,” rengeknya.
“Tarabisa. Nanti sore saja, kitong bartemu di pante,” jawabku sambil tersenyum pada siswa kelas lima itu.

Matahari mulai merangkak ke arah barat Teluk Sambrawai. Ombak saling berkejaran ke arah bibir pantai. Pasir hitam begitu luas, cocok untuk bersantai. Kulihat serombongan anak yang tengah berenang, diantara remang-remang sinar matahari bak siluet senja. Sementara seorang anak lainnya duduk di atas kayu tua yang rebah di pinggir laut sembari memandangi kawan sepermainannya yang sedang molo*. Dari kejauhan kulihat Mama Nyora di atas sampan dayung hendak menuju pulang.

“Pak Guru, mari tempo,” teriak Herman dari kejauhan, sementara, pohon kelapa disampingnya melambai-lambai seperti memanggilku.
“Iiyo, sa ke situ,” jawabku singkat sembari melangkahkan kaki menuju arah suara.
“Sa naik ke pohong dolo. Pak Guru, tunggu sini saja,” katanya padaku sembari berlalu.

Tak berapa lama tubuh mungil siswa berambut cepak itu sudah berada di atas pohon kelapa. Aku tak pernah menyangka dia begitu cekatan memanjat pohon yang tingginya berkali-kali lipat dari tubuhnya. Tak butuh waktu lama, belasan buah khas daerah tropis itu terlepas dari tandannya berkat kemahiran jari jemarinya. Tak ada rasa lelah yang bergelanyut di wajahnya. Justru senyum simpul yang menyambutku dari atas pohon yang buahnya biasa dijadikan minyak goreng itu.

“Pak Guru, su cukup kah?,” teriak Herman dari atas pohon yang banyak tumbuh di pinggir pantai itu.
“ Ok. Sudah, mari turung,” balasku sembari menyatukan ibu jari dengan jari telunjuk membentuk sebuah lingkaran kecil, sementara tiga jari lainnya kubiarkan tegak.

Perlahan ia turun dari atas pohon. Kedua kakinya menjadi tumpuan untuk menahan beban tubuhnya. Tak berapa lama, tangan Herman sudah sibuk kesana-kemari meraup satu per satu buah kelapa yang jatuh terpencar. Sementara itu, Yulius, tetanggaku tampak membawa parang untuk membelah buah berwarna coklat muda itu.

“Pak Guru, su bisa makang buah kelapa sekarang kah?,” tanya Herman padaku.
“Balum. Nanti kalau matahari su masuk ke arah barat. Lalu, benang merah su muncul, bolehlah sa makang deng ko,” jelasku padanya.
“Benang merah itu apa?,” selidiknya dengan penuh penasaran.
“Benang merah itu, seperti garis yang berwarna merah jingga. Dong akang muncul kalo matahari su tenggelam,” jawabku panjang lebar.

Sepasang mata bertaut memandangi wajah laut. Membayangkan nuansa ramadhan di kampung halaman. Gema azan magrib yang saling bersahutan. Hidangan khas ramadhan, kolak dan bubur nasi ketan. Hingga acara buka bersama yang tiap pekan yang tak pernah terlewatkan.

“Pak Guru, benang merah su muncul,” teriak Herman, yang ternyata berhasil membuyarkan lamunanku.
“Balum, sebentar lae. Itu matahari baru mau tenggelam,” jawabku.
“Itu su ada warna merah jingga,” timpalnya.
“Itu bukang warna merah jingga. Itu warna orange, Herman,” terangku padanya.
“Oh, hehehehe” mulutnya terbuka sambil nyengir.

Dua buah kelapa kini terhidang di hadapanku. Perlahan kutuangkan airnya ke dalam botol minumku. Saat benang merah muncul di langit Pantai Sambrawai, perlahan bibir botol minum berwarna orange itu mendarat di mulutku. Kesegaran memenuhi tenggorokanku. Kunikmati setiap tetes rasa manis bercampur asam khas air buah kelapa muda itu.

Tetiba kuteringat guru-guru ngajiku di kampung halaman. Suaranya seperti masih terdengar di telingaku. “Jika tidak mendengar azan, namun benang merah sudah muncul di langit jingga, maka berbukalah”.

Dzahabat Dhoma’u wabtallatil ‘Uruqu, Wasabatal Ajru, Insya Alloh.
(Telah hilang rasa haus dan urat-urat telah basah, serta pahala telah tetap, Insya Alloh)

Sambrawai, 1 Juli 2016 / 26 Ramadhan 1437 H

Molo : Mencari ikan sambil menyelam di laut menggunakan sejenis alat khusus

Simple, Free Image and File Hosting at MediaFire

Simple, Free Image and File Hosting at MediaFire

Simple, Free Image and File Hosting at MediaFire

Simple, Free Image and File Hosting at MediaFire

sumber: www.facebook.com/trisujarwo.songha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *