Bintang Laut

Pak Guru, Kapan Kitong Belajar lagi ?“Pak Guru, kapan kitong belajar lagi ?”, tanya Benyamin sambil memperhatikanku saat sedang memetik buah mangga di pinggir rumah.
“Sebentar kitong ka lau, tong belajar di sana saja. Ko pu mama ajak saja,” jawabku sambil lalu, membawa buah mangga ke dapur.

Langit Pantai Pasir Putih terang tak terkira. Awan biru tampak gagah bersanding dengan awan putih yang serupa kapas. Rimbun semak tanaman perdu pertanda pantai ini jarang dijamah manusia. Pasir putih mulai menyembul saat air laut mulai surut . Ombak seperti tak bergeming melihatku datang. Tenang.

“Pak guru, apa pantai ini pu nama?,” tanya Ben, panggilan akrab Benyamin, setibanya di pantai yang terletak di Distrik Angkaisera itu.
“Pantai Pasir Putih. Oya, Ben, kitong balajar di sini saja, di lau”, jawabku sembari menggali pasir di bibir pantai bersama siswa kelas 1 SD Inpres Serui itu.
“Tara, mau, Pak Guru,” kilah anak berbadan mungil itu.
“Hah. Tadi, ko tanya kapan kitong belajar. Sekarang Pak Guru, su ada di sini kenapa ko tara mau,” jawabku tak mau kalah.
“Sa mau maing-maing saja, Pak Guru. Gali-gali pasir kah”, sergahnya sembari terus menggali pasir dengan kedua tangannya.
“Ok, sekarang kitong tra belajar. Kitong bermain-main saja. Pak Guru, ajak ko bermain angka. Ko pu mata liat kemari. Coba ko hitung, berapa bintang laut pu kaki?” rayuku sembari menunjukkan bintang laut kepada bocah imut itu.

Jari jemari Ben mulai menunjuk kaki bintang laut itu satu per satu. Mulutnya bergerak mengikuti gerakan tangannya. Lisan bungsu dari dua bersaudara itu berhenti berbicara saat tiba di angka lima. Ia kembali menggali pasir yang kini mulai sedalam mata kaki orang dewasa.

Kuarahkan mata Ben pada guratan kecil berbentuk bulat yang menyembul di masing-masing kaki bintang laut itu. Jari mungilnya kembali bergerak-gerak lincah seperti sedang merapal doa. Tangannya yang penuh pasir dibenamkan ke dalam kolam kecil yang dibuatnya. Jari kecilnya yang seperti berkilat saat diterpa sinar matahari itu kembali bergerak dari satu guratan ke guratan lainnya. Kali ini lisannya berhenti pada saat ia menghitung, tepat di angka yang sepintas mirip dengan buah cherry berwarna merah darah.

“Enam, Pak Guru,” teriaknya kencang.
“Aku mengangguk pelan. Senyum tersungging dari kedua pipiku. Mataku menatap mata bocah 6 tahun itu. Bibirnya ikut mengembang. Giginya yang putih terlihat seperti mengambang.”

Bintang laut kuletakkan di atas pasir pantai. Tanganku mulai meraba punggung pantai, merapihkan pasir pantai agar terlihat rata. Jariku bergerak membentuk angka yang sepintas seperti kursi yang terbalik.

“Ben, ini angka berapa?,” tanyaku padanya.
“Empat, Pak guru.” Betul, betul, betul. Cerdas apa.

Hari semakin senja. Langit juga tak sebiru siang tadi di anjangsana. Banyak rasa yang tertinggal di pantai sana. Termasuk kecintaanku pada anak-anak Papua. Mereka laksana sebuah buku yang setiap lembarnya memberikan makna. Dan, hari ini, satu lembar buku itu telah kubaca. Terima kasih, Ben.

Angkaisera, 10 Juli 2016 / 5 Syawal 1437 H

Cerdas apa : Cerdas banget
Tara : Tidak
Kitong : Kita
Sa : Saya
Pu : Punya

Simple, Free Image and File Hosting at MediaFire
 
Simple, Free Image and File Hosting at MediaFire
 
Simple, Free Image and File Hosting at MediaFire

sumber: www.facebook.com/trisujarwo.songha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *