Kelulusan Siswa

Cerita Siang itu di Pulau TigaAngin berhembus menembus pori-poriku pelan. Matahari mulai meninggi hingga mencetak bayanganku miring ke samping. Di ujung Dermaga Kabuaena kulihat anak-anak asyik mengail. Tak ada kapal besar yang merapat, yang biasanya melayani rute Waropen, Nabire dan Biak. Hanya perahu-perahu kecil dari Kepulauan Ambai yang hilir mudik mengantar penumpang.

“Amel, mana perahu milik ibu angkatmu yang akan menjemput kita? Masih, lama kah ? ” tanyaku pada rekan sesama pengajar muda itu.
“Sebentar lagi mas, ada siswa yang akan menjemput kita” jawabnya singkat.

Tak berapa lama seorang bocah berusia sekolah dasar dan remaja tanggung keluar dari dua tanjung yang ujungnya tak saling bertemu. Persis seperti memasuki sebuah pintu tanpa daun pintu. Mereka tersenyum seperti mengajak kami berempat untuk segera naik.

“Mari pak guru dan ibu guru, naik” ajak mereka sembari merapatkan perahu mungilnya ke tepi pantai. “Ok. Siap” kaki kami melangkah mendekati perahu.

Sampan mulai dikayuh, lalu mesin dinyalakan. Tak berapa lama dermaga tempat kami menunggu tadi mulai ditelan pulau mungil yang kini disampingku. Ombak mengalun cepat seperti rentak saman yang tak berdetak. Badanku mengikuti alunan ombak yang tidak terlalu galak. Perahu terombang-ambing tak hanya melawan deru angin laut yang panas menyengat, tapi juga ombak yang kecepatannya tak bisa diperlambat.

Kulihat perahu semakin menuju ke laut lepas. Biru pekat air laut semakin terlihat. Perahu bermesin 15 PK dengan panjang sekitar 4-5 meter itu mengangkut 6 penumpang di dalamnya, termasuk aku. Aku duduk di paling ujung perahu yang berbentuk lancip itu. Cipratan ombak yang dihantam badan kapal itu mengenai sebagian pakaianku. Basah.

“Mas Jarwo, baik-baik saja kah?” tanya Pariri rekan seperjalananku yang sepertinya tahu kegelisahanku.
“Ok. Saya Ok.” Jawabku tanpa bisa menyembunyikan raut pucat pasiku.
“Tenang, saja. Perahu ini aman. Aku sudah berkali-kali naik perahu seperti ini.” Senyum tersungging dikedua bibirnya.
“Masih lamakah Pulau Tiga itu?” tanyaku untuk kedua kalinya.
“Sebentar lagi. Lihat Pulau Hijau di depan sana. Itulah tempat kita menggelar acara perpisahan sekolah siswa-siswi kelas 6 SD Rondepi nanti.” Timpal Amel.

Kulihat perahu banyak yang telah menepi di pinggir pantai yang berpasir hitam itu. Pulau Tiga yang masuk dalam Distrik Kepulauan Ambai, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua ini memang sering dijadikan tempat untuk piknik. Matahari tepat di tengah-tengah langit Pulau Tiga. Siswa-siswi saling berkerumun. Ada yang asyik mengobrol di pinggir pantai. Banyak pula yang berenang sembari berebutan sebilah batang kayu.

Dapur darurat didirikan di pinggir pantai oleh para orangtua siswa. Mereka masak aneka kuliner khas Papua. Berragam menu mulai dari Sinole, buras, nasi kuning dan nasi putih dihidangkan. Mereka makan siang bersama, kecuali bagi yang sedang menjalankan puasa ramadhan. Aku memilih menjadi juru potret sembari menunggu mereka selesai santap siang. Tradisi di Papua memang demikian adanya. Saat pelepasan siswa SD para orangtua akan membawa aneka makanan untuk disantap bersama-sama.

“Wah, baru sebulan mengajar, kalian sudah menamatkan siswa dan lulus semua ya” kata-kata Mama Ribka Fonataba, sang kepala sekolah, mengagetkan kami semua. Kami yang hadir siang itu tertawa lepas.

Segala rasa lelah selama di perjalanan seperti sirna, melebur menjadi satu bersama acara syukuran kelulusan siswa. Kami semakin bertambah bahagia kala mendengar Bapak Fonataba akan mengantar kami pulang menggunakan speed boat. Tak terbayang kalau aku harus pulang dengan perahu jukung itu.

Serui, 4 Juli 2016 / 29 Ramadhan 1437 H
Simple, Free Image and File Hosting at MediaFire 
Simple, Free Image and File Hosting at MediaFire 
Simple, Free Image and File Hosting at MediaFire 
Simple, Free Image and File Hosting at MediaFire 
Simple, Free Image and File Hosting at MediaFire 
Simple, Free Image and File Hosting at MediaFire

sumber: www.facebook.com/trisujarwo.songha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *